Selasa, 19 Mei 2009

Nasib Anak Kost

Buatku, bacaan semodel teenlit atau chicklit itu terlalu ringan. Nggak pernah berhasil memaksa otakku untuk berpikir.


Maka kalo ada buku yang isinya ringan yang rasanya pantas buat kurekomendasikan buat orang lain, selama di Jokja aku baru nemu kemarin itu (lagi-lagi) pas kebetulan ngeceng di Togamas. Judulnya “Anak Kos Dodol”, karangannya Mbak Dewi “Dedew” Rieka (nggak seru ini. Blognya di Multiply, alias nggak bakalan bisa ikutan ngasih komentar kalo kita bukan member Multiply juga), terbitannya Gradien Mediatama.

Ceritanya aku memang lagi kapok ngasih rekomendasi buku ke cewek-cewek penyuka teenlit kalo mereka pada nanya, apa aku punya rekomendasi bacaan yang bagus? Kapok kenapa? Kapok gara-gara kemudian harinya mereka ngeluh ke aku, bahwa buku yang ta’rekomendasiin ternyata terlalu berat buat mereka. Ya mau bagemana lagi, John? Aku memang sukanya sama buku yang nggak umum (nggak umum buat pembaca yang maniak teenlit, maksudku). Jadilah ketika mereka-mereka penyuka teenlit dan chicklit itu kusodori karangannya Bagus Takwin, mereka akhirnya malah ngeluh, “Aku nggak ngerti bahasanya, Joe.”

Wah, ya gimana lagi, dong, Mbak? Kalo sekedar Bagus Takwin aja terlalu berat, gimana dengan buku-buku kesukaanku yang lainnya? Padahal menurutku Bagus Takwin itu romantis, lho. Ya romantis khas cowok, sih. Makanya sempat kepikiran juga kalo cewek kayaknya amat-sangat perlu untuk kusuruh supaya baca-baca bukunya. Cuma bahasanya memang rada-rada mbulet, nggak straight to the point, dan penuh kata-kata kiasan. Jadinya memang agak ribet buat tipikal pembaca yang mau gampangnya aja alias alergi mikir, dan makanya juga nggak cocok buat yang seleranya baca-baca teenlit.

Tapi kemarin itu akhirnya aku nemu buku yang ringan yang enak buat dibaca, dan lebih penting adalah bahwa buku itu berhasil lolos sensor ala standarku. Tumben-tumbennya ada buku semacam itu yang menurutku nggak norak.

Lho, memangnya yang lain norak po, Joe?

Iya, norak. Bukan sebuah sentimen pribadi karena nggak pernah berhasil nerbitin buku makanya aku bilang kalo teenlit-teenlit itu kebanyakan yang noraknya daripada yang nggak norak :twisted: Rasanya waktu aku muda, kehidupan (cinta) itu nggak sampe sebegitunya, deh. Terlalu dibikin-bikin, ah, kisahnya. Macam buku Lupus 1 dekade belakangan ini yang ceritanya juga maksa banget. Setiap baca buku-buku itu, aku nggak pernah sampe mbatin, iya ya, dulu aku (atau teman-temanku) juga ada yang gitu. Yang ada aku malah ngerasa kalo kehidupan esemaku lebih deket ke kisah-kisahnya Lupus jaman 1 dekade pertama.

Kalo bukunya Mbak Dedew yang kemarin kubeli, aku ngerasa ceritanya nggak terlalu dibuat-buat. Buku yang nyeritain kejadian-kejadian sehari-hari Mbak Dedew selama ngekos di Jokja itu jauh dari kesan slapstick dan kebetulan-kebetulan yang dipaksakan (nggak kayak Lupus 1 dekade terakhir ini). Jadi kisah yang ada di dalamnya kerasa ngalirnya. Di beberapa bagian, aku yang sejak jadi mahasiswa biasanya maksimal cuma bisa senyum aja kalo lagi baca buku, berhasil dipaksa ngekek-ngekek tertahan, terutama pas cerita “Backstreet Gitu Dyehh!”, di mana pacarnya Mbak Dedew yang anak rohis itu takut banget ketauan sama teman-teman rohisnya kalo dia punya pacar, nyahahaha!

(Uhmmm… Siyal! Aku jadi tertantang buat macarin anak rohis, mumpung statusku masih mahasiswa. Dari dulu pacar-pacarku nggak ada yang anak rohis, soale :mrgreen: )

Aku sebenernya nothing to lose aja waktu beli buku itu. Cuma tertarik sama gambar sampulnya yang lucu. Kalopun nanti isinya ternyata norak dan terlalu dibuat-buat kayak buku-buku buat remaja yang lain, ya wassalam. Kukasihin ke adikku aja. Beres perkara. Tapi, oh, tapi, ternyata aku tidak rugi membeli buku itu.

Buku itu menceritakan tentang kehidupan anak kos di kos-kosan cewek. Tentang segala suka-dukanya dalam 33 cerita. Memang nggak semua bisa bikin aku terkesan. Beberapa cerita menurutku memang datar-datar saja. Tapi bukankah hidup itu juga seperti itu? Nggak harus penuh problematika roman picisan yang kesannya nggak wajar kayak yang di teenlit-teenlit itu, kan? Dan justru karena itulah, overall, ”Anak Kos Dodol”, menurutku, adalah buku yang bagus. Layak baca; ringan tapi tetap berisi. Ada banyak pelajaran hidup yang bisa diambil dari cerita-cerita kesehariannya Mbak Dedew itu.

Maka tiba-tiba aku merasa seperti membaca kisah-kisah Lupus dalam 10 tahun pertamanya. Aku kangen banget sama cerita-cerita model kayak gitu, soalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar